Yongky’s Blog

Juni 5, 2009

Pertemuan Kesebelas

Filed under: Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan — g00db0y90 @ 3:18 pm

Lanjutan FALLACIES OF REASONING

(Kesalahan-kesalahan dalam menalar logika)

Informal Fallacy (relevance – ommision) dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

  • bogus dilemma > Seolah-olah hanya itulah pilihannya
  • concealed quantification > Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja
  • damning the alternatives > Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah
  • definitional retreat > Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi
  • extensional pruning > Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum (atau arti literal)
  • argumentum ad ignoratiam > Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti
  • argumentum ad lapidem > Kepala batu
  • argumentum ad nauseam > Menggunakan perulangan agar terlihat benar
  • one-sided assessment > Hanya melihat satu sisi masalah
  • refuting the example > Menolak klaim dengan pernyataan yg bukan inti permasalahan
  • shifting ground > Menyangkal dg alasan bahwa klaim awal bukan seperti itu maksudnya
  • shifting the burden of proof > Mengalihkan tanggung jawab atas bukti
  • Special Pleading > Menuntut double standar
  • the straw man > Bila tidak bisa membantah, hajar versi extremenya
  • the exception that proves the rule > Perkecualian yg malah digunakan utk membenarkan
  • trivial objections > Menyalahkan sesuatu yg jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele
  • unaccepted enthymemes > Menggunakan enthymemes utk argumen
  • unobtainable perfection > Menyalahkan karena tidak sempurna

Informal Fallacy (relevance – intrusion) dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

  • blinding with science > Menggunakan istilah ilmiah agar terlihat seolah benar
  • argumentum ad crumenam > Kebenaran ditentukan oleh uang
  • emotional appeals > Memanfaatkan emosi untuk mempengaruhi pendapat
  • every schoolboy knows > Lebih baik kamu setuju daripada dibilang oon
  • the genetic fallacy > Menilai kebenaran argumen berdasar siapa sumbernya
  • argumentum ad hominem [abussive] > Menyerang orangnya, bukan pendapatnya
  • argumentum ad hominem [circumstancial] > Mempengaruhi pendapat dengan memanfaatkan posisi/kepentingan lawan
  • ignoratio elenchi > Membenarkan satu pendapat karena berhasil membenarkan pendapat yg lain
  • irrelevant humour > Guyonan digunakan untuk mengalihkan perhatian
  • argumentum ad lazarum > Orang miskin tidak selalu lebih baik daripada orang kaya
  • loaded words > Mempengaruhi pendapat dengan kata-kata heboh penuh prasangka
  • argumentum ad misericordiam > Mempengaruhi pendapat berdasar kasihan
  • poisoning the well > Menyerang sebelum lawan memberikan argumennya
  • the red herring > Memberi fakta lain yg tidak berhubungan dan membuat kesimpulan tak tercapai
  • the runaway train > Membawa argumen ke hal-hal yg jauh
  • the slippery slope > Menganggap satu tahap pasti diikuti tahap-tahap berikutnya
  • tu quoque > Menentang pendapat dg menyalahkan lawan bahwa dia juga demikian
  • argumentum ad verecundiam > Menggunakan autoritas palsu
  • wishful thinking > Menentang/menyetujui pendapat berdasar keinginan kita.

Informal Fallacy (relevance – presumption) dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

  • abussive analogy > Menggunakan analogi yg melecehkan
  • accident > Perkecualian dianggap pembenaran
  • analogical fallacy > Menggunakan analogi yang tidak tepat
  • argumentum ad antiquam > Menganggap bagus karena kuno
  • apriorism > Sok tahu lebih dulu
  • bifurcation > Membatasi cuma 2 pilihan
  • circulus of probando > Logika berputar-putar
  • complex questions (plurium interrogationum) > Menggabung beberapa pertanyaan sehingga tidak bisa sekedar dijawab Ya atau Tidak
  • cum hoc ergo propter hoc > Sesuatu yg terjadi bersamaan seolah berhubungan
  • dicto simpliciter > Generalisasi berlebihan
  • ex-post-facto statistics > Menganggap hebat sesuatu kebetulan setelah hal itu terjadi
  • the gambler’s fallacy > Kesalahan memahami peluang hal yg berurutan
  • non-anticipation > Kalau memang demikian, tentu sudah sejak dulu ada tindakan
  • argumentum ad novitam > Menganggap yg baru itu lebih benar
  • petitio principii > Membuat argument yg berisi kesimpulan yg kita inginkan
  • post hoc ergo propter hoc > Kejadian yg berurutan dianggap berhubungan
  • secundum quid > Generalisasi yg terlalu cepat
  • argumentum ad temperantiam > Menganggap jalan tengah selalu yang terbaik

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.